×
{{ results.post_category | category_uzone}}

{{ results.post_title }}

{{ results.post_date_stamp }} By
Katadata

Bukan lagi sekadar membangun aplikasi yang bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari atau dikenal sebagai SuperApp, kedua decacorn Asia Tenggara ini mulai menelisik potensi di masing-masing bisnisnya. Pertarungan Gojek dan Grab memasuki babak baru di tiga layanan, yakni pesan-antar makanan, pembayaran, dan konten digital.

Baru-baru ini Gojek meluncurkan layanan anyar, GoGames. Dalam kacamata Co-Founder Gojek Kevin Aluwi, pasar gim di Indonesia berkembang cukup pesat. “Kami perkirakan kontribusi digital dan gaming pada tahun-tahun ke depan semakin penting di ekosistem Gojek,” kata Kevin di Jakarta, Ahad kemarin (8/9).

Bisnis gim memang tergolong anyar bagi perjalanan Gojek. Namun prediksi pesatnya layanan tersebut menjadi harapan baru. Dia membandingkan layaknya ketika mengembangkan ojek online dan pesan-antar makanan yang membutuhkan waktu beberapa tahun.

Untuk itulah PT Aplikasi Karya Anak Bangsa ini sedang menggalang pendanaan baru. Presiden Gojek Grup Andre Soelistyo menyampaikan dana yang dibidik hingga US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28,4 triliun. Tentu putaran permodalan yang ditargetkan tercapai sebelum akhir tahun ini untuk pengembangan seluruh lini bisnis perusahaan.

Andre menyampaikannya saat wawancara khusus dengan Bloomberg Televisi. Decacorn Tanah Air ini ingin memperkuat layanan pembayaran atau GoPay dan pesan-antar makanan GoFood. Pertumbuhan layanan-layanan ini cukup tinggi. Di luar negeri, Gojek mencatatkan transaksinya sekitar US$ 1,5 miliar.

(Baca: Gojek Cari Modal Rp 28,4 Triliun untuk Perkuat GoFood dan GoPay)

Langkah yang sama juga ditempuh rivalnya, Grab. Perusahaan itu berinvestasi US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,13 triliun untuk mengadopsi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI). Dengan mengimplementasikan teknologi, Grab ingin memperkuat tiga layanan di Asia Tenggara.

Ketiga layanan itu adalah pesan-antar makanan atau GrabFood, pembayaran, dan konten digital. “Kami ingin beralih dari AI-powered menjadi AI di manapun,” kata Co-Founder Grab Tan Hooi Ling Tan dalam wawancara khusus dengan Bloomberg TV beberapa waktu lalu (5/9).

Dengan begitu, pertarungan antara kedua startup bervaluasi lebih dari US$ 10 miliar itu mulai fokus di tiga layanan.

 

Jumlah Unduh Aplikasi

Jumlah Mitra

Cakupan

Gojek

155 juta

400 ribu mitra GoFood, 60 ribu penyedia layanan, dan lebih dari 2 juta pengemudi di Asia Tenggara

207 kota di empat negara (dan di Filipina lewat akuisisi Coins.ph)

Grab

155 juta

9 juta (plus agen) di Asia Tenggara

338 kota di delapan negara

Sumber: Katadata, diolah

 

Potensi Besar Bisnis Layanan Pesan-Antar Makanan

Berdasarkan data ResearchAndMarkets.com, nilai bisnis layanan pesan-antar makanan secara global mencapai US$ 84,6 miliar sepanjang tahun lalu. Jumlah ini diprediksi naik menjadi US$ 164,5 miliar pada 2024. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa laju pertumbuhan majemuk tahunan atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) bisnis ini sekitar 11,4 % selama 2019-2024.

Di Asia, data Statista memperlihatkan bahwa pendapatan industri ini mencapai US$ 58,4 juta sejak awal tahun ini. CAGR pendapatan dari layanan antar-pesan ditaksir 10,5 % sepanjang 2019-2023. Sebagian besar pendapatan ini diraih Tiongkok, yakni US$ 40,2 juta sejak awal 2019.

Di Indonesia, Gojek telah menggaet hampir 400 ribu mitra GoFood. Sebanyak 96 % di antaranya merupakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Chief Food Officer Gojek Grup Catherine Hindra Sutjahyo menyebutkan, GoFood tumbuh tujuh kali lipat dalam dua tahun terakhir.

Dia juga menyampaikan, pangsa pasar GoFood di Indonesia mencapai 80 % atau empat kali lebih besar daripada pesaingnya. “Kami menggunakan teknologi untuk mengembangkan mitra-mitra GoFood, terutama skala kecil,” kata dia beberapa waktu lalu.

 
Go-Food Festival (Go-Jek)

 

Pertumbuhan pesanan GoFood untuk kopi susu dan ayam geprek merupakan yang tercepat dalam setahun terakhir. Catherine mengungkapkan, banyaknya mitra dan inovasi lewat beberapa fitur menjadi penopang pertumbuhan GoFood.

Selain di Indonesia, GoFood hadir di Vietnam dan Thailand. Decacorn Tanah Air ini berencana menyediakan GoFood di Singapura. Saat ini, perusahaan juga tengah mengajukan izin untuk beroperasi di Malaysia dan Filipina.

Kontribusi Penghasilan Mitra terhadap Perekonomian Indonesia

Survei LD FEB UI

Survei CSIS dan Tenggara

GoRide

Rp 22 triliun

GrabBike

Rp 15,7 triliun

GoCar

Rp 12 triliun

GrabCar

Rp 9,7 triliun

GoFood

Rp 19 triliun

GrabFood

Rp 20,8 triliun

GoLife

Rp 1,5 triliun

Kudo

Rp 2,7 triliun

Total Kontribusi Mitra Gojek

Rp 55 triliun

Total Kontribusi Mitra Grab

Rp 48,9 triliun

Sumber: Riset LD FEB UI, Riset CSIS dan Tenggara

Tak mau kalah, Grab berencana memperkuat layanan GrabFood. Perusahaan asal Singapura ini telah mengumpulkan US$ 4,5 miliar dalam putaran pendanaan terbarunya. Salah satunya, Grab mendapat investasi US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28,4 triliun dari SoftBank pada Juli lalu.

Grab berencana memperkuat tim riset dan pengembangan alias Research and Development (R&D) terkait GrabFood di Indonesia. Perusahaan pun ingin membangun kantor pusat di DKI Jakarta yang berfokus menjadi pusat bisnis GrabFood.

(Baca: Grab Investasi Rp 2 Triliun untuk Artificial Intelligence di 3 Layanan)

Mereka optimistis Indonesia selalu menjadi pasar strategis. “GrabFood menjadi sinyal pertumbuhan operasi kami di negara ini. Selain itu, kami ingin menggandakan tim talenta dan memperkuat R&D untuk mendukung operasi bisnis,” kata Kepala GrabFood Indonesia Demi Yu dikutip di Deal Street Asia, Rabu (4/9) lalu.

Grab akan berfokus untuk menciptakan solusi yang mendukung pemberdayaan wirausahawan kecil serta agen Grab-Kudo di Indonesia. Layanan GrabFood pun meningkat dari 13 kota pada Januari 2018 menjadi 178 kota per Maret 2019. Volume pengirimannya meningkat 10 kali.

Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata sempat mengatakan, kecepatan pengiriman GrabFood rata-rata hanya 29 menit. Selain itu, jumlah mitra meningkat delapan kali lipat. Sebanyak 80 % di antaranya merupakan UMKM.

Ridzki mengatakan, penghasilan mitra pengemudi yang menyediakan layanan GrabFood juga tumbuh 40 %. Dia menambahkan, rata-rata pendapatan para mitra meningkat hingga 88 % dalam lima bulan setelah tergabung dalam GrabFood.

Gojek dan Grab Berebut Pasar Keuangan

Untuk menyasar pasar keuangan, Grab mendirikan Grab Financial Group pada Maret 2018. Unit bisnis ini berfokus mengembangkan tiga layanan yakni pembayaran, perlindungan, dan pinjaman.

Head of Financial Services Grab Ankur Mehrotra menyebutkan, peluang pasar bisnis keuangan ini 20 kali lebih besar dibanding layanan berbagi tumpangan (ride-hailing). Sebab, ada sekitar 438 juta orang yang tidak memiliki rekening bank di wilayah cakupan Grab, yakni Asia Tenggara.

Kendati peluang pasarnya besar, Grab menyasar lebih banyak konsumen dengan menyediakan beragam layanan di Asia Tenggara. “Kami berbicara tentang 20 kali bisnis berbagi tumpangan, dalam hal peluang pasar,” kata Ankur dikutip dari Kr-Asia beberapa waktu lalu.

Startup asal Singapura ini pun bekerja sama dengan banyak perusahaan. Di antaranya Kasikornbank Pcl dari Thailand, Mastercard, dan mendapat tambahan modal dari pemeringkat kredit konsumen asal Irlandia, Experian.

Pada awal 2019, Grab juga menggandeng ZhongAn Technologies International Group Limited untuk membentuk joint venture marketplace asuransi digital di Asia Tenggara. “Peluncuran platform asuransi ini bagian dari komitmen kami untuk menjadi everyday superapp terkemuka di Asia Tenggara,” kata President of Grab Ming Maa, pada Januari lalu.

(Baca: Grab Bidik Jadi Bank Digital di Singapura)

Perusahaan penyediaan layanan on-demand ini juga dikabarkan menjajaki kolaborasi dengan perusahaan teknologi finansial (fintech) pembayaran asal Tiongkok Ant Financial (Alipay) dan dari Amerika Serikat (AS) Paypal. Kerja sama ini untuk memperkuat layanan keuangan Grab lewat Grab Financial Group.

 
Grab Ventures (Grab)

 

Di seberang, upaya memperkuat layanan keuangan juga sempat disampaikan CEO Gojek Grup Nadiem Makarim. “Sekarang lah evolusi GoPay dan layanan keuangan,” kata dia saat meluncurkan logo baru Gojek, yang diberi nama Solv.

Nadiem pernah menyebutkan, total transaksi atau Gross Transaction Value (GTV) di platform-nya mencapai US$ 9 miliar atau sekitar Rp 126 triliun pada 2018. Pencapaian itu naik 13,5 kali dibanding 2016.

Head of Corporate Communication GoPay Winny Triswandhani mengatakan, sekitar setengah dari transaksi di platform Gojek menggunakan layanan pembayaran dari GoPay. Transaksi di luar layanan aplikasi Gojek juga tercatat tumbuh 25 kali sepanjang tahun lalu.

GoPay juga bekerja sama dengan lebih dari 300 yayasan dan masjid untuk menyediakan layanan donasi digital. “Donasi melalui GoPay naik 400 kali dari Juli 2018 hingga Juni 2019,” kata Winny.

Yang terbaru, Gojek menggandeng perusahaan asuransi teknologi alias insurance technology (insurtech), Pasar Polis untuk merilis GoSure. Fitur itu hadir dalam versi beta dan baru menawarkan produk asuransi perjalanan kepada pengguna.

Pada 2017, kedua perusahaan ini telah meluncurkan layanan asuransi untuk mitra pengemudi yang diberi nama GoProteksi. Agustus tahun lalu, PasarPolis memperoleh pendanaan seri A dari Gojek, Traveloka, dan Tokopedia.

Konten Digital Jadi Pasar Baru yang Diperebutkan

Konten digital seperti gim melalui ponsel pintar (mobile games) hingga video streaming merupakan layanan ketiga yang bakal dijajaki Gojek dan Grab. Gojek merilis GoGames dengan tiga fitur, yakni isi ulang (top-up), televisi, dan resep bermain gim.

Berdasarkan data Mobile Marketing Association (MMA), ada 60 juta pemain gim di Indonesia tahun lalu. Jumlahnya diperkirakan mencapai 100 juta pada 2020.

Head of GoGames Timothius Martin mencatat, pertumbuhan top up gim menggunakan GoPay hingga 40 % per bulan sejak 2018. Namun ia mengaku bahwa transaksi bukan target utama perusahaan.

Gojek juga memperkenalkan platform video streaming, GoPlay pada Juni lalu. Layanan ini dikembangkan sejak awal 2018.

(Baca: Saingi GoFood, Grab Perkuat Tim Riset Terkait GrabFood di Indonesia)

Seperti Netflix yang memproduksi sendiri beberapa tayangannya, beberapa konten yang muncul melalui GoPlay nantinya diproduksi secara internal melalui GoStudios. Beberapa film yang didukung oleh GoStudios seperti Kulari ke Pantai, Keluarga Cemara, Buffalo Boys, Kucumbu Tubuh Indahku, Aruna dan Lidahnya, serta 27 Steps of May.

Sedangkan Grab sudah merilis Grab Daily sejak pertengahan tahun lalu. Melalui fitur ini, decacorn itu menyediakan beragam konten. Hasil kerja sama dengan Yahoo misalnya, Grab menghadirkan berita terkini hingga jadwal pertandingan olahraga di Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Ada pula ulasan restoran atau pusat perbelanjaan terdekat. Bahkan, pengguna dapat bermain gim sederhana, mengisi polling tentang suatu hal yang menarik hingga kuis kepribadian melalui fitur ini.

Terkait video streaming, Grab menggandeng perusahaan layanan video on demand (VoD) Hooq. Layanan ini dirilis pada Kuartal I 2019 di Indonesia dan Malaysia.

Melihat bagaiamana gencarnya kedua perusahaan menjaring pendanaan baru, pertaruangan Gojek dan Grab mungkin tidak berhenti pada ketiga layanan ini. Gojek dan Grab selalu berpacu dalam setiap lintasan.

 

 

312 Comments in this article

Tunggu Sebentar Ya...

Submit
transboy5 21 October 2019 | 13:38:34

saya kira masih unggul gojek di sisi pendapatan dari 3 layanan yang dikelola oleh 2 startup tersebut

Miskin aman 21 October 2019 | 10:35:28

semoga bisa bersaing dengan aman selalu yah

Muhammad Fikray 21 October 2019 | 07:42:16

hanya ikut menyimak sajalah

toxic yes 19 October 2019 | 23:13:06

pertarungan antara ojol ojol

wdn 16 October 2019 | 21:35:23

pertarungan antara tiga layanan dari dua ojol

Load More Comments
Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id

Related Article