Home
/
News

Tim Investigasi HAM PBB: Facebook Berperan dalam Konflik di Myanmar

Tim Investigasi HAM PBB: Facebook Berperan dalam Konflik di Myanmar
Jejak Tekno13 March 2018
Bagikan :

Para pakar HAM di PBB yang menginvestigasi kemungkinan telah terjadinya genosida di Myanmar mengatakan bahwa Facebook telah berperan dalam menyebarkan kebencian di negara berpenduduk 52,89 juta jiwa (2016) tersebut.

Facebook tidak lekas memberikan komentar terkait kritikan ini, meskipun mereka di masa lalu pernah menyatakan sedang berusaha menghapus ujaran kebencian di Myanmar dan memblokir orang-orang yang secara konsisten membagikan konten demikian.

Lebih dari 650.000 Muslim Rohingya melarikan diri dari distrik Rakhine di Myanmar dan pindah ke Bangladesh setelah serangan kelompok pemberontak memantik pemeriksaan keamanan bulan Agustus silam. Banyak penduduk memberikan kesaksian tentang eksekusi dan pemerkosaan yang dilakukan aparat keamanan Myanmar.

Pimpinan HAM PBB pekan lalu mengatakan dirinya menduga kuat telah terjadi pembersihan etnis di Myanmar. Pihak Myanmar meminta diberikan ‘bukti gamblang.’

Marzuki Darusman, pimpinan Independent International Fact Finding Mission PBB di Myanmar kepada wartawan mengatakan bahwa media sosial telah ‘berperan penting’ di Myanmar.

“Media sosial ... telah secara substansial berkontribusi kepada sengitnya perbedaan dan pertikaian serta konflik, di dalam masyarakat. Ujaran kebencian tentunya bagian dari itu semua. Sejauh Myanmar memahaminya, media sosial adalah Facebook, dan Facebook adalah media sosial,” jelasnya, dikutip dari Reuters, Senin (12/3).

Anggota tim penyidik Yanghee Lee mengatakan Facebook adalah bagian penting dalam kehidupan pribadi, masyarakat maupun pemerintah, di mana pemerintah menggunakannya untuk menyebar informasi kepada masyarakat.

“Semua di Myanmar dilakukan lewat Facebook,” jelasnya sambil menambahkan bahwa Facebook telah ikut mengangkat negara tersebut dari kemiskinan namun juga dipakai menyebarkan ujaran kebencian.

“Facebook digunakan untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, tapi kita juga tahu bahwa para Budhis ultra-nasionalis mempunyai akun sendiri dan benar-benar memancing kekerasan dan kebencian terhadap Rohingya atau pun etnis minoritas lainnya,” jelas Lee.

“Saya takut Facebook telah menjadi sebuah makhluk yang menyeramkan, bukan lagi seperti yang awalnya diniatkan.”

Biksu nasionalis garis keras Myanmar paling terkenal, Wirathu hari Sabtu menampakkan dirinya setelah dilarang berdakwah selama setahun dan mengatakan pandangan anti-Muslimnya tidak ada kaitan dengan kekerasan di distrik Rakhine.

Facebook menskors bahkan menutup akun yang ‘dengan konsisten membagi konten berisi kebencian’, jawabnya bulan Lalu saat ditanya tentang aktivitas akun Wirathu.

populerRelated Article