IoT dalam Kacamata Pengelola Bandara

09 February 2017 by
IoT dalam Kacamata Pengelola Bandara

Bertumbuhnya jumlah penumpang pesawat udara membuat pengelolaan bandara semakin rumit. Hal ini dialami oleh PT Angkasa Pura II (AP II) yang saat ini mengelola 13 bandara.

Salah satu bandara terbesar yang dikelola AP II adalah Bandara sebesar Soekarno Hatta. Bandara yang terletak di Cengkareng, Banten, ini adalah bandara tersibuk ke-8 di Asia dengan 54 juta penumpang pada 2015.

Di Soekarno-Hatta, lonjakan penumpang saat libur Lebaran atau saat libur panjang bisa mencapai 41 persen hingga 67 persen. Pada saat libur panjang, rata-rata penerbangan per hari bisa mencapai 1.172 penerbangan.

Pada tahun lalu, jumlah penumpang di Bandara Soekarno-Hatta diperkirakan mencapai 57 juta penumpang, sementara di tahun depan diperkirakan mencapai 60 juta penumpang.

Tentunya pengelolaan cerdas dan terobosan teknologi sangat diperlukan bagi bandara sibuk seperti Soekarno Hatta ini. Jika tidak, bisa terjadi kekisruhan mulai dari jadwal penerbangan hingga penumpang.

Untuk itu, hadirnya Internet of Things (IoT) menjadi sebuah peluang bagi AP II untuk meningkatkan layanannya, dalam rangka efisiensi dan efektivitas layanan dan daya saing AP II.

Mengapa menjadi peluang? Sebab AP II yang mengelola kebandar-udaraan adalah pengguna terbesar IoT, yakni dari sisi jumlah penumpang seperti diuraikan di atas. Dengan kata lain, AP II merasa perlu untuk memanfaatkan IoT.

Untuk memahami bagaimana IoT bisa diimplementasikan di AP II melalui smart airport, kita perlu memahami core activities dan core area di bandara.

Di sebuah bandara, core activities yakni pertama adalah lokasi, kedua layanan (services), dan ketiga adalah bisnis. Jika kita memetakan ketiganya, harus ada area yang berdekatan dengan tiga aktivitas terebut untuk prosesnya.

Di area yang berkaitan tadi, kegiatan operasional kebanyakan berada di air side (sisi udara). Sementara kegiatan services ada di terminal, lalu kegiatan bisnis ada di area terminal dan land side.

Kalau kita lihat, dalam pengembangan ICT dalam konsep smart airport, maka yang akan di-ICT-kan oleh AP II adalah tiga area tersebut. Yakni air side, terminal, dan land side.

Di air side,  terdiri atas bagian runway, apron dan taxi way. Di area ini terdapat aktivitas ground handling services, operation dan maintenance aircraft. Di terminal, terdapat passenger movement serta kegiatan bisnis di mana banyak merchant melakukan kegiatan di area ini. Lalu di land side, ada pergerakan untuk transportasi publik seperti taksi, bus dan kargo.

Dari tiga area ini, semua berpeluang besar untuk tersentuh IoT.  Tetapi tentu saja AP II harus memilah prioritas mana yang akan digunakan untuk mendukung adopsi IoT ini.

Untuk itu, AP II menerapkan pola-pola dalam rangka kemitraan jika ada vendor IoT yang akan masuk. Pola-pola tersebut ada di tiga core area AP II.  Di air side, konsepnya kita buy atau build. Artinya, jika ada yang kita perlukan di wilayah ini, akan kami bangun sendiri atau kami beli.

Di area terminal, konsepnya borrow or build. Disini terbuka kemitraan degan konsep borrow. Demikian juga di area land side, konsepnya adalah borrow.

Sebagai contoh, di land side, AP II akan mengembangkan bus antarterminal (shuttle bus) yang besar dan konsepnya untuk memindahkan orang dan barang. Sebab bus antarterminal saat ini kecil dan sedikit untuk ruang bagasi.

Lalu untuk taksi, bisa digunakan metode antrian digital. Penumpang tinggal ambil antrian nomor, lalu menunggu dan kemudian dipanggil sesuai nomor urut antriannya.

AP II menilai, IoT ini merupakan solusi teknologi masa depan. Oleh karena itu, adopsi IoT sangat menarik bagi AP II. Tapi, tetap harus kami hitung benefit dan cost-nya.

Oleh sebab itu, IoT-isasi di 13 bandara AP II akan dilakukan bertahap dengan pilot project di terminal III bandara Soekarno-Hatta. Di terminal III, IoT-isasi akan dimulai dari passenger movement dulu. Mulai dari penumpang datang ke bandara, melewati pemeriksaan, ke counter check-in,  sampai naik ke pesawat.

Nah, data itu yang bisa dicapture oleh AP II. Misal data bahwa penumpang akan pergi ke tempat kopi dulu saat menunggu boarding. Atau mengcapture data mengenai pengelolaan parkir, hingga keamanan bandara, serta data pengguna seluler yang masuk ke BTS bandara.

IoT ini juga diharapkan bisa mengcapture data visitor atau pengunjung riil bandara. Sebab selama ini hanya diketahui jumlah penumpang bandara saja, yakni dari daftar manifes penumpang. Tapi jumlah pengunjung tidak ada.

Estimasinya, sekitar 20 persen dari passenger adalah visitor. Jika digabung, yakni estimasi jumlah penumpang 57 juta orang ditambah estimasi pengunjung, maka jumlahnya bisa mencapai 62 juta orang di 2016.

AP II berharap bisa menggunakan beacon technology untuk IoT-isasi ini dibanding aplikasi sebab lebih presisi. Tapi saat ini, kemungkinan beacon ini akan digunakan untuk kalangan internal dulu.

Selain benefit dan cost, AP II juga mempertimbangkan sumber daya manusia sebagai salah satu tantangan penerapan IoT di bandara. Dari sisi pegawai, yang mereka perlu pahami adalah di era IoT ini, mereka harus memahami proses bisnis yang baru.

Misalnya saja, untuk dulu pegawai yang tugasnya mengambil taksi. Dulu sebelum ada layanan tiket digital, mereka harus mencatat calon penumpang taksi, dan mengelola ketersediaan fleet.

Namun kini, mereka bekerja lebih efisien sebab hanya tinggal mengelola jumlah taksi yang masuk. Pegawai ini bisa memanfaatkan big data, yakni bisa dengan cepat memutuskan untuk menambah taksi jika penumpang sedang banyak.

Sementara dari sisi penumpang, rata-rata sudah teredukasi dengan baik dari sisi penggunaan smartphone. Sehingga jika kami tambahkan sejumlah fitur layanan, kemungkinan mereka akan senang untuk mencobanya alias tidak gagap.

AP II tidak bisa bekerja sendiri untuk IoT-isasi. Kami akan bermitra, dengan mitra yang memiliki nama besar dan reputasi yang baik, misalnya saja PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), BUMN telekomunikasi.(*)

Ditulis oleh Direktur Utama Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin

Artikel ini juga dipublikasikan di Buku All About IoT yang diterbitkan IndoTelko.com bersama Indonesia IoT Forum

Apa Reaksi Anda ?

Love
0%

Suka

Laugh
0%

Lucu

Surprised
0%

Kaget

Sad
0%

Sedih

Angry
0%

Marah

288 Comments in this article

Tunggu Sebentar Ya...

Submit
Irfani Rebel 22 February 2019 | 10:49:15

semoga lebih baik dan bermanfaat ya

iky brother 21 February 2019 | 18:51:07

IoT dalam kacamata pengelola bandara

spider Man 21 February 2019 | 18:10:23

mod adalah sebuah jaringan internet yang baru

Aldi lolo 21 February 2019 | 17:58:43

kok kacamata pengelola bandara aja dari kacamata kita kapan

Ahmad Rahnan 21 February 2019 | 14:32:56

pasti beda dari setiap pandangan yah

Load More Comments
Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id
To Top