Home
/
News

Jejak Yahudi di Minangkabau

Jejak Yahudi di Minangkabau
Padangkita.com31 July 2017
Bagikan :

Suatu petang nan terang, nelayan-nelayan mulai melepaskan sauh di dasar muara sungai Batang Harau. Mereka hendak mengarungi Samudera Hindia yang begitu luas, mengadu peruntungan. Di pinggir Batang Harau, gudang-gudang tua menjadi saksi bisu kehidupan kuli angkat yang penuh keringat demi meraih rupiah.

Berok, kadang disebut Berok Nipah, persis di mulut muara sungai Batang Harau, denyut kehidupan mengalir seperti halnya masa lampau. Berok Nipah tumbuh kembang karena dagang dan melaut.

Gudang-gudang tua peninggalan kolonial Belanda, bukti sahih bahwa Berok dari dulu sudah menjadi pusat perniagaan. Salah satu gudang yang terkenal adalah milik Jacobson van den Berg & Co.

Jacobson van den Berg, cukup terkenal di Hindia Belanda di abad 19 hingga 20, karena tergolong "The Big Five" alias lima besar perusahaan di Hindia Belanda.

Kantor pusat terletak di Roterdam, Belanda. Untuk di Hindia Belanda, berpusat di Batavia, dan memiliki cabang di Surabaya, Semarang, Cirebon, Padang, bahkan di luar negeri.

Jacobson van den Berg & Co didirikan oleh Edward Jacobson (Rotterdam 1841 Kreuzlingen-Thurgau 1881) dan Henri van den Berg (Rotterdam 1843 -Nice 1899).

Menariknya, nama Berok diduga berasal dari nama Jacobson van den Berg. Filolog Suryadi mengatakan, orang sekitar kawasan Batang Harau sering menyebut perusahaan Jacobson van den Berg & Co (merujuk pada gudang atau besar di sana) milik Tuan Berok. Sebab, jelasnya, karena lidah orang Padang (baca Minang), susah melafalkan kata Berg.

“Nama itu sampai kini abadi dalam nama sebuah kelurahan/kampung di Padang, yaitu Kampung Berok,” tulis pengajar Universiteit Leiden, Belanda, sebagaimana dikutip dari blognya.

Jacobson van den Berg memang dikenal sebagai pengusaha berkebangsaan Belanda. Mungkin tidak banyak yang tahu, kalau dia adalah seorang Yahudi.

Perusahaan ini menjadi tempat transit bagi komoditi-komoditi dagang dari dataran tinggi Minangkabau sebelum diekspor ke Eropa dan Amerika.

Anton Ramdan dalam buku Membongkar Jaringan Bisnis Yahudi di Indonesia, menuliskan, keberadaaan orang Yahudi sekitar abad 19 dan 20, berstatus sebagai orang yang berkebangsaan Eropa dan Arab. pandai berbahasa Belanda, Inggris dan bahkan Arab.

Status legal sebagai warga negara-negara di Eropa dan Arab, jelasnya, membuat orang Yahudi melakukan kegiatan bisnis yang aman dan lancar.

“Mereka antara lain, Jacobson van den Berg, Goldenberg, Olislaeger, Ezekiel & Sons dan Goodwordh Company,” tulis Anton.

Keberadaan orang Yahudi di Minangkabau hingga saat ini masih menjadi kontroversi. Banyak pihak yang menyatakan bahwa adanya orang Yahudi di Ranah Minang tidaklah benar, apalagi beberapa tulisan yang beredar di internet ada yang menuliskan kalau orang Minang adalah keturunan Yahudi, hal sudah pasti ditolak mentah-mentah.

Namun, keberadaan usaha milik Jacobson van den Berg & Co di Padang, tentu mengindikasikan orang Yahudi pernah beraktivitas dalam ranah niaga. Terlebih meninggalkan sebuah nama yang dikenang, hal yang menunjukkan bahwa Jacobson van den Berg & Co legendaris di masanya.

Sumatera Barat khususnya pantai barat Sumatra-nya, pada abad ke 17 hingga akhir abad ke 19 masehi menjadi pusat perdagangan dan bisnis yang sangat berkembang.

Pedagang dari sejumlah negara berdatangan untuk bertransaksi berbagai kebutuhan komoditi khususnya rempah-rempah.

Daerah pesisir di Sumatera Barat yang memiliki pelabuhan pun turut berkembang, sebut saja Padang, Pariaman, Tiku, Inderapura, dan daerah-daerah pesisir lainnya. Sehingga tak jarang sejumlah orang-orang asing datang dan berbisnis di kawasan ini, termasuk orang Yahudi.

Peneliti sejarah Yahudi, Romi Zarman mengatakan kota Barus adalah negeri yang pertama kali disinggahi oleh orang-orang Yahudi di Nusantara. Barus adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Indonesia.

“Yang datang untuk berdagang ke sini adalah saudagar dari Arab, India dan sejumlah negara lainnya,” kata penulis buku Yudaisme di Jawa Abad ke-19 dan 20 ini.

Tidak hanya di Barus, para saudagar Yahudi pun melanjutkan ekspansi bisnisnya ke Aceh. Saudagar-saudagar Yahudi bukan hanya sekedar berniaga tetapi juga menetap di Aceh sekitar abad ke-16 dan 17.

Sementara itu, di Sumatera Barat, tepatnya di pelabuhan Tiku, pernah disinggahi saudagar Yahudi Belanda bernama Jacob van den Heemskerk. Hal itu menurut Romi terjadi awal abad ke-17 setelah sebelumnya berlabuh di Utara Sumatra.

Orang Yahudi yang datang ke Indonesia atau ke Minangkabau saat itu murni hanya untuk berdagang. Pulau Sumatera dan Jawa mereka merupakan tempat transit sebelum menuju ke Tiongkok.

“Mereka (saudagar Yahudi) datang ke sini (Sumatra dan Jawa) murni untuk berdagang, tidak ada tujuan lain,” kata Romi.

Pada awalnya orang Yahudi yang terlibat urusan niaga di Minangkabau belum menjadikan daerah ini sebagai tempat tinggal. Namun, saat kota Padang menjadi pelabuhan utama di pantai barat Sumatra pada akhir abad ke 19, keturunan Yahudi sudah mulai menetap di kota tersebut.

“Padang menjadi tujuan utama para saudagar Yahudi setelah Batavia (Jakarta), Semarang dan Surabaya,” jelasnya.

Menurut Romi, hal tersebut berdasarkan laporan N. Hirsch, seorang Letnan Yahudi Eropa yang bertugas di Bukittinggi pada akhir abad ke-19 dalam judul, “Joodsche toestanden in Indie II” (Nieuw Israelietisch Weekblad, selanjutnya disingkat NIW) Nr 38, 35e Jrg [9 Maret 1900]).

Di zaman kolonial di Indonesia, selain berdagang, warga keturunan Yahudi yang datang ke Minangkabau juga menjadi tentara kolonial Belanda.

Setelah mereka pensiun dari dinas militer, kebanyakan diantaranya memutuskan menetap di Padang dan bekerja di perusahaan-perusahaan itu.

Warga keturunan Yahudi ternyata sempat membuat komunitas dan organisasi pada Zaman Hindia Belanda. Salah satu cabang organisasi tersebut juga berdiri di Kota Padang.

Pada masa awal abad ke 20, populasi Yahudi di Padang seperti yang dinukilkan Hirsch dalam “Joodsche toestanden in Indie VII” (NIW 22, 37e Jrg [15 November 1901]), berjumlah 28 jiwa.

“Mereka juga sempat membuat komunitas dan organisasi di Padang,” paparnya.

Romi memperkirakan, komunitas Yahudi di Padang masa kolonial hingga kedatangan Jepang, berkisar 70 orang. Dan tidak ditemukan berdirinya sinagog. Sinagog atau Kanisah adalah nama tempat beribadah orang Yahudi.

Berdasarkan sensus pemerintah Hindia Belanda tahun 1930, komunitas Yahudi di Sumatera berjumlah 121. Sementara yang tertinggi berada di Jawa Barat yakni 353 jiwa.

Usai Indonesia merdeka, populasi Yahudi di Indonesia kian menyusut. Pelbagai penyebabnya antara lain, menjadi bagian dari orang-orang yang dibebaskan Sekutu ketika mengalahkan Jepang, dan ikut arus hijrah ke Belanda, Australia, dan Amerika, ketika nasionalisasi menggema di tahun 1950-an.

Populasi yang direkam data statistik Hindia Belanda, semakin menguatkan jejak Yahudi di Minangkabau. Tanpa keberadaan Sinagog secara gamblang, persentuhan komunitas Yahudi dengan Minangkabau lebih menonjol dalam urusan dagang dan administrasi dan tentara, bukan siar agama.

Sejarah Yahudi adalah sejarah konflik dan keterusiran, sehingga mereka diaspora. Menyatu dengan bangsa lain dan atas bendera beragam negara. Namun untuk gen dan darah tetaplah Yahudi.

Komunitas Yahudi harus dipahami bukan agama semata, melainkan identitas baik etnis, agama, budaya dan kesukuan.

Jacobson van den Berg & Co adalah satu diantaranya; bergerak di bidang niaga.

Bersambung ….

(Yose Hendra & tim)

Lihat Sumber : Padangkita.com

populerRelated Article